Wednesday, June 24, 2015

Just a Day - Just a Friends (Part 2)

Main story: Just a Day - Morning.
Previous chapter: Just a Friends Part One.

>>>
Nabila mendial nomor yang sama untuk kesekian kalinya dari handphonenya. Tidak ada jawaban.

“Kemana sih dia!?” saking geregetannya, boneka berbentuk beruang di tangannya sudah berubah wujud menjadi kelinci.

Sejak pulang sekolah, sudah berkali-kali ia mencoba menghubungi Ivan, namun cowok itu tidak juga mengangkat. Bahkan di sekolah pun Ivan seperti tidak ada harapan hidup, mati segan hidup tak mau. Setiap ada orang yang mengajaknya berbicara, sebisa mungkin Ivan menghindar. Nabila tahu itu karena dia duduk semeja dengan Ivan.

“Padahal gue mau tanya tentang lirik lagu,” Nabila menggerutu lalu mengakhiri panggilan ketika tersambung dengan kotak suara, lagi.

Sudah seminggu ini Nabila terus memperhatikan gerak-gerik Ivan. Bagaikan sniper yang tidak mau kehilangan buruannya. Ia ingin mengamati sejauh apa sebenarnya perasaan Ivan pada Bu Mei. Walaupun hasilnya nihil, karena dia sendiri belum pernah menyukai seseorang.

Meander - Chapter 4

First chapter: Meander - Chapter 1.
Previous chapter: Meander - Chapter 3.

>>> 
<risa> kayaknya aku suka deh sama adit :c
<nira> hah!??
<nira> kok bisa?
<risa> huhu ;-; iya, aku juga gatau kenapa suka :c
<risa> tapi adit kayaknya suka sama lala ya?
<nira> kamu kan jarang ngobrol sama adit, kok bisa suka?
<nira> ahahaha
<risa> gatau nih, aku juga bingung ;;-;;
<risa> gimana dong kak?
<nira> mau aku comblangin? ;)
<risa> aku maluuuuu >_<
<nira> adit anaknya lucu sih, rada pendiem tapi
<risa> iya, aku tau kok ._.
<nira> waktu itu aja di stasiun dia diem aja, kebanyakan berantem sama lala sih haha
<nira> dia pernah curhat ke aku sih :|
<risa> iya kak? curhat apa??
<nira> ada deh :p
<nira> bukan cuma dia, kok. kebanyakan anak cyber curhatnya ke aku ._.
<risa> soalnya kak nira enak di curhatin :)
<nira> banyak yang bilang gitu sih ._.
<nira> rata-rata yang curhat ke aku pasti masalahnya selesai
<nira> itu kata mereka sih, gatau juga bener atau engga :|

Thursday, June 11, 2015

[FanFiction] Reminiscence



Gadis berambut merah muda itu kembali melihat arlojinya tanpa berusaha untuk menyembunyikan wajah kesalnya.

"Sudah 2 jam.." gumamnya pelan.

Ia melipat tangan dan menghempaskan diri ke bangku keras di halte bis itu. Hujan rintik-rintik menambah suram harinya yang sejak pagi sangat tidak menyenangkan. Mulai dari jam wekernya yang tidak berbunyi, tukang koran yang tidak datang mengantar koran yang biasa ia baca tiap pagi, sampai tadi saat ia pergi ke tempat kerjanya namun tempat itu tidak buka.

Ya, dia bekerja di sebuah bar khusus untuk penggemar musik metal. Menjadi seorang bartender memang tidak mudah bagi gadis seusianya, tapi baginya yang sudah lama melakukannya, hal itu sudah menjadi keseharian. Seperti bagaimana kau membuat martini yang sempurna, atau meracik jenis cocktail baru.

Sekali lagi ia mencoba menghubungi nomor yang paling sering ia hubungi, sampai ia memasukkannya ke daftar panggil di nomor 1.

"Tidak diangkat. Kemana sih dia?" diputusnya panggilan itu lalu menelepon nomor lain. Telepon diangkat pada dering pertama.

"Ya."

Wednesday, April 15, 2015

The Young Adult - Chapter 8

Previous chapter: The Young Adult - Chapter 7.

>>>
"Baik-baik di Aussie ya, Di..” isakku. Aldi memelukku makin erat.
 
“Jangan nangis mulu dong,” ujarnya sambil mengusap kepalaku. “Gue kan kesana buat sekolah, bukan wajib militer. Kalo sempet entar pas liburan gue balik kok,” lanjutnya. Walaupun terdengar tegar, aku tahu Aldi juga sedih harus berpisah denganku. Biar bagaimana pun juga, aku adiknya satu-satunya.

“Ma ...” panggilku sambil berpaling memeluk Mama. “Mama gak tinggal disini aja? Aku sama siapa nanti, Ma?” aku kembali merengek. Semalam setelah tamu-tamu rusuh itu pulang, kami membicarakan hal ini bertiga.

“Mama harus temenin Aldi ke tempat barunya, Sella sayang..” Mama mengusap kepalaku dengan penuh sayang. “Nanti kalau urusan Aldi udah beres, Mama pulang ke rumah kok. Janji deh!” seru Mama sambil mengecup kedua pipiku.

“Tapi nanti malem gimana, Ma?” rengekku. “Aku gak mau tidur sendirian di rumah..”